
cerpen
Belajar Lagi dan Lagi
Oleh. Iis Nopiah Pasni
Di dapur rumah Pak Riswanto, terdengar suara Bunda Isna-istri Pak Riswanto dan anak-anaknya.
"Nenek!" kata Bunda Isna mengajarkan kosa kata buat Dek Hani, putri bungsunya.
"Ninik!" jawabnya dengan suara lucu menggemaskan.
"Abang!" kata Bunda Isna lagi sambil melihat ke arah Dek Hani.
"Abi," jawabnya lucu, disambut tawa Mas Haikal dan Abang Abidzar mendengar kata yang diucapkan Dek Hani barusan.
Dek Hani juga ikut tertawa, padahal Ia tak tahu kalau kakak-kakaknya itu tertawa mendengar celotehannya.
"Abang, Dedek!" kata Abidzar pada adik bungsunya itu.
"Bun, lucu ya Dek Hani ngomongnya," kata Abidzar sambil meluk lengan Bundanya.
"Iya, sama kayak Abang dulu juga gitu, manggil Mas Haikal itu "Eka", hehe," jawab Bunda Isna sambil mengelus kepala Abidzar.
"Oh ya, masa' sih, Bun!" jawabnya tak percaya.
"Iya, ya Mas?" tanya Abidzar penasaran lalu bertanya pada Mas Haikalnya.
"Iya, pertama panggil "Eka" trus "Ekal" lama-lama bisa manggil "Mas Haikal" dengan benar," jawab Haikal sambil iseng mengangkat tinggi Abidzar dengan mengangkat badannya Abidzar.
Tentu saja Abidzar tertawa lanjut ketakutan.
"Mas, tinggi nian, Abi takut," katanya sambil berpegangan pada kepala Mas Haikalnya.
Akhirnya Mas Haikal menurunkan Abidzar lalu melanjutkan makan bakso pangsit kesukaannya.
"Bun, artinya kita semua tadinya nggak bisa ngomong ya Bun," tanya Abidzar penasaran
"Iya, kita di dalam rahim ibu itu sama Allah dijadikan seperti kaset kosong, ketika lahir, nggak bisa ngapain ... semuanya dibantuin orang tua, bertahap belajar duduk, merangkak, berdiri berjalan dan berangsur perbendaharaan kata bertambah," kata Bunda Isna menjelaskan.
"Artinya harus belajar terus ya Bun," jawab Abidzar penasaran.
"Iya, harus belajar lagi dan lagi, kalau nggak mau belajar ya nggak akan bisa," jawab Bunda Isna sambil memangku Abidzar dan memeluknya.
"Lihatlah Dek Hani, sekarang lagi belajar ngomong, tadinya hanya bisa ngomong kata Ayah, sekarang Alhamdulillah udah banyak 'kan kosa kata Dek Hani," kata Bunda Isna penuh syukur.
"Bun, kenapa kalau pagi Dek Hani biasa Bunda ajak main pasir, baru dan tanah, ' kan kotor, Bun?" tanyanya lagi penuh ingin tahu.
"Karena Bunda ingin Dek Hani dikasih stimulasi menyentuh benda, seperti batu, kayu, rumput, bunga, pasir, tanah, air. Agar motoriknya bagus berkembang pesat, agar masa oral nya nggak terlewat biar Dek Hani jadi tambah kepintarannya seperti bisa ngomongnya, merespon pertanyaan sederhana, lancar jalannya dan biasa berkumpul dengan teman sebayanya," jawab Bunda menjelaskan pelan pada Abidzar.
"Masyaallah ya, ternyata Allah SWT ciptakan kita untuk mengenal lingkungan kita iya kan, Bang?" tanya Bunda Isna pada Abidzar.
"Iya, agar bersyukur pa Allah ya Bun," jawab ya mantap.
"Iya, dan agar manusia mengenal Sang penciptanya Sang Khalik, kalau ada makhluk berarti ada penciptanya iya 'kan Bang?" tanya Bunda Isna lagi.
"Iya Bun, bener itu, kalau ada makhluk ada yang ciptain!" sahut Abidzar lagi, entahlah Bunda Isna juga tak tahu apakah anaknya itu sudah benar-benar mengerti atau belum. Baginya merupakan tugas seorang ibu menyampaikan walau sedikit ya mencoba menyampaikan walau satu ayat.
"Setiap makhluk diciptakan Allah SWT untuk beribadah kepada Allah."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah:
"Yang menciptakan semua ini adalah yang berhak untuk diibadahi."
"Gitu, Bang," kata Bunda Isna menjelaskan pada Abidzar, berharap anaknya itu Paham dan mengerti. Selalu berharap anak-anaknya menjadi anak-anak yang saleh dan salehah juga Muslih dan musliha
Muara Enim, 09 Desembe 2022
Baca juga:

0 Comments: