Headlines
Loading...
Oleh: Ana Mujianah

"Adit ayo bangun, Nak. Sudah Subuh. Nanti kamu kesiangan!" teriak Laras pada putra semata wayangnya yang masih pulas. Sudah seminggu ini Adit selalu bangun kesiangan. Laras pun mulai bertanya, ada apa dengan anak laki-lakinya. 

"Hemm, masih ngantuk, Bund," sahut Adit dengan suara bergelayut dan mata terpejam rapat.

"Ayo Adit bangun, anak laki-laki itu harusnya sholat Subuh ke masjid!" Wanita muda itu menarik selimut yang dipakai Adit agar anak laki-laki 10 tahun itu segera bangun.

"Adit sholat di rumah aja, Bund." Bocah laki-laki itu menggeliat kemudian melingkarkan kakinya dan tertidur pulas lagi. 

"Sholat di rumah bukan berarti boleh sholat semaunya, Adit. Ayo bangun!" Laras mulai tidak sabar. Pasalnya, dia juga harus segera bersiap ke kantor. Namun, wanita muda itu masih terus berusaha membangunkan putranya. 

"Kalau mau berangkat ke sekolah bareng ayah bunda, Adit harus segera bangun, Nak," bujunya tapi masih tak ada tanda Adit segera bangun.

"Bik Isah, tolong bangunin Adit ya. Saya mau siap-siap," ujar Laras setelah sekian lama tak berhasil membangunkan anaknya. Laras bergegas meninggalkan kamar putranya dan menyerahkan urusan bocah itu ke Bik Isah, wanita paruh baya yang telah membantu Laras mengasuh Adit sejak bayi.

"Ayo, si Kasep bangun, lalu mandi dan segera sholat subuh. Habis itu sarapan." Dengan kesabaran Bik Isah akhirnya Adit berhasil dibangunkan. Bergegas, anak laki-laki sepuluh tahun itu ke kamar mandi lalu sholat seperti instruksi Bik Isah.

"Ayah bunda mana, Bik?" tanya Adit saat dimeja makan tak menemukan kedua orang yang dicari untuk sarapan bareng. "Sudah berangkat, karena ayah bunda ada rapat di kantor hari ini," jawab Bik Isah sambil mempersiapkan bekal anak majikannya. 

"Nanti Adit dianter Mang Udin pake motor. Ayo makan dulu terus diminum susunya." Adit menghela napas lesu. Ada gurat kecewa menghiasi wajahnya pagi hari itu. "Kenapa sih, Bunda nggak betah di rumah?" keluhnya pelan.

**
Pukul 9 malam. Bik Isah mondar-mandir di teras rumah. Sesekali wanita itu melongok ke jalanan komplek. Sepi. "Duuh, kemana si Ujang." Bik Isah mulai gelisah. 

"Mang coba telepon ke rumah Zidan. Mungkin Adit main ke sana," mohon Bik Isah pada tukang kebon Bu Laras itu. "Sudah, tapi nggak ada katanya, Bik," jawab Mang Udin. Bik Isah pun pasrah duduk di teras. Lamunannya ngelantur kemana-mana takut terjadi sesuatu pada Adit. Bi Isah baru tersadar karena bunyi klakson mobil Laras dan suaminya hendak masuk.

"Ada apa, Bik," tanya Laras begitu turun dari mobil. Wanita cantik itu ikut kebingungan melihat Bik Isah tidak tenang.

"Anu, Neng Laras. Si Ujang belum balik dari Magrib," jawab Bik Isah cemas. "Tadi pamit sama Bibik katanya mau ke masjid belakang, mau sholat Magrib," lanjut Bik Isah.

"Udah Bik Isah tenang dulu, habis ini kita cari." Laras segera menghubungi beberapa teman Adit yang biasanya main bareng. Nihil. Adit tak ada di rumah salah satu mereka.

"Kemana nih anak?" batin Laras. Wanita itu mulai berpikir keras kemana kira-kira Adit pergi.

Hampir pukul sebelas malam, Adit belum pulang juga. "Yah, kita lapor polisi aja!" Kini Laras yang panik mondar-mandir di gang komplek sambil menelepon ke semua teman-teman Adit.

"Kita ke rumah Ustadz Yahya, Bund," ajak ayahnya Adit. "Ngapain? Malam-malam, Yah," cegah Laras. 

"Bik Isah bilang, terakhir Adit pamit pergi ke masjid kan?" Masuk akal, Laras pun mengiyakan ajakan suaminya pergi ke rumah Ustaz Yahya.

"Mohon maaf sebelumnya, Ustadz, jika malam-malam menganggu. Kami sekedar mau tanya, apakah Magrib tadi lihat Adit ke masjid. Soalnya sampai sekarang belum pulang," tanya ayah Adit tanpa basa-basi lagi.

"Oh, iya tadi anak-anak itu ke masjid. Habis itu saya lihati Adit pergi sama Wawan. Tadi sempet denger mereka bisik-bisik katanya mau mabar atau apa saya kurang ngerti," jawab Ustaz Yahya.

"Oh, kira-kira mereka pergi ke warnet mana ya, Tadz?"

"Biasanya langganan anak-anak main game itu warnet seberang komplek, Pak Hari," terang Ustaz Yahya. Ayahnya Adit dan bunda pun segera meluncur ke warnet yang dimaksud. Dan benar, Adit sedang asyik bermain game online rame-rame.

"Adit." Laras medekati bocah sebelas tahun itu. "Ayo pulang, Nak. Sudah malem," ajak Laras lembut. Sementara Adit bengong tak percaya bahwa bundanya ada di situ.

"Nanggung mabarnya, Bund," elak bocah itu.

"Sudah malem, Nak. Besok lagi." Laras berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak terbawa emosi, meski marahnya sudah sampai ubun-ubun. Akhirnya, Adit pun berhasil dibujuk untuk pulang dengan muka cemberut.

"Adit, duduk dulu bunda mau bicara!" perintah Laras sebelum Adit masuk ke kamar. 

"Apaan sih, Bund. Adit ngantuk!" rajuknya sambil membanting tubuh di sofa dekat bundanya.

"Adit tahu ini sudah jam berapa? Kenapa main game sampai larut malam? Nggak izin sama Bik Isah?" cecar Laras kepada anaknya. 

"Adit bosen di rumah nggak ada temennya. Bunda pergi terus," bantahnya.

"Bunda pergi kan untuk cari uang, buat Adit juga." Laras tak mau kalah.

"Yang cari uang kan bisa ayah!" Laras langsung terdiam. Serasa ada bongkahan batu menghantam egonya. Laras berpikir bahwa dengan menyekolahkan Adit di sekolah Islam itu sudah cukup membentengi anaknya dan membentuknya menjadi pribadi yang shalih. Namun, ternyata semua itu salah. Adit butuh sosok yang bisa menemaninya belajar, tempat pertama untuk bertanya, yaitu ibunya.

"Maafkan Bunda, Nak!" Laras langsung menangis sambil memeluk putranya erat. 

TAMAT

Baca juga:

0 Comments: