Headlines
Loading...
Oleh. Surya Dewi

Di sebuah sel kecil dimana Erna terkurung, sesekali ia menangis tanpa suara. Air matanya meleleh dengan pandangan kosong penuh penyesalan. Seakan dunianya telah hancur lebur setelah putrinya dikubur.

Erna bersandar pada tembok bercat putih dengan rasa sesal yang tak kunjung hilang. Matanya menerawang pada kisah beberapa hari lalu yang membuatnya terkurung dalam jeruji besi.

-----------

Sudah beberapa hari suami Erna tak kunjung pulang. Perutnya yang besar menunjukkan bahwa sebentar lagi ia akan melahirkan. Sementara uang yang ada padanya sudah tak bersisa lagi. Erna berusaha menghubungi suaminya. Ditelepon tak diangkat, pesan pun tak berbalas. Ia bahkan tak tahu suaminya ada dimana.

Setelah seminggu tak ada kabar, sebuah pesan masuk membuat hati Erna penasaran. Namun tak disangka pesan itu malah membuat Erna sedih dan nelangsa. Pasalnya pesan berisi bahwa suaminya telah menceraikannya.

Bagai petir disiang bolong. Erna langsung pisan dan dilarikan ke rumah sakit. Karena kondisi kejiwaan Erna yang tidak stabil pihak rumah sakit segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan keduanya. 

Mendengar tangisnya Erna tersadar bahwa ia tak lagi berada di rumah. Dilihatnya sekeliling, ternyata sahabat Erna, Murni ada di pojok menjaga bayi yang telah dikeluarkan dari rahimnya.

"MasyaAllah Tabarokallah, Erna. Anakmu cantik sekali. Sehat dan cantik seperti dirimu. Selamat ya, Erna." Senyumnya seakan memberi semangat hidup setelah rasa sakit yang dirasa oleh Erna.

Murni membawa bayinya mendekati dirinya. Tangis haru bahagia ia rasakan karena saat kehilangan suaminya, bidadari kecil hadir bak pelipur lara. Bayi merah nan cantik mulus itu di beri nama Rara. 

Setelah merasakan bahagia menerima bayinya terlahir, perawat memberitahukan bahwa semua pengobatan tidak menggunakan BPJS. Oleh karena itu biaya yang harus dibayar sangatlah membuat Erna terkaget-kaget. Ia mengiyakan perkataan perawat.

"Dasar lelaki tak bertanggung jawab! Ya Allah mengapa aku harus melahirkan dalam kondisi seperti ini?" 

Begitu dipandangi anaknya, ia menangis sejadi-jadinya. Ibu macam apa dia yang jika dia pulang tak akan mampu membawanya pulang karena tak ada uang. 

Hari ketiga mengharuskannya meninggalkan rumah sakit. Dan berusaha untuk mencari uang untuk biaya persalinannya. Rasa malu untuk mengatakan pada orangtuanya bahwa suaminya telah menceraikannya dan menelantarkannya membuat ia bingung hingga air susunya tak keluar. Anaknya mulai menangis terus dan terus. 

Erna begitu kesal. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Rumah tangganya hancur, ia tak bisa bayar rumah sakit. Bahkan air susunya tak keluar. Begitu sampai di rumah pun semua barangnya telah dikeluarkan. 
"Apalagi ini? Ah, kontrakanku pun sudah habis. Kemana lagi aku harus pergi dengan barang-barang ini."

Sudah jatuh tertimpa tangga seperti itulah Erna. Ia kemudian teringat Murni. Sahabatnya dari kecil. Mungkin saja ia bisa membantu. Murni sudah menikah lima tahun lebih dan belum dikaruniai anak.

Setelah panjang lebar dia bercerita sambil menangis meluapkan perasaannya. Murni masih menyemangatinya untuk fokus pada bayinya. 

"Apa kau mau membantuku, Murni?"
"Maaf, tapi itu uang yang besar, Er. Aku tak berani."
"Kau, kan tak punya anak. Asuh saja putriku. Setidaknya aku tak terbelit hutang. Dia akan mendapatkan kasih sayang dari kalian berdua. Bagaimana?" Bujuk Erna yang tak sadar dengan apa yang diucapkannya. Bagaimana mungkin seorang Ibu ingin berpisah dengan anak yang baru dilahirkan tiga hari yang lalu?

Murni kaget. Ia seperti melihat oase ditengah Padang pasir, tapi ia tak mau terpedaya. 
"Apa kau sungguh-sungguh, Erna?"
"Iya, setelah itu aku akan pulang ke rumah orang tuaku. Aku akan merasa tenang karena Rara akan punya Bapak dan Ibu yang lengkap. Ia tidak akan kekurangan. Ibu macam apa aku... tak sanggup mengambilnya. Bahkan tak sanggup membelikan susu atau popok untuknya...." Jelasnya dengan terisak.
"Baiklah, jika itu yang kau mau. Aku mau kau menandatangani perjanjian agar suatu hari kamu tidak mengambil bayimu dan sesuai dengan perjanjian."

Tanpa pikir panjang, Erna menandatangani surat itu. Ikut menjemput putrinya di rumah sakit. Melihat bagaimana Murni menyayangi putrinya. "Kamu tidak akan kekurangan, Nak," batinnya.

Erna pun pulang ke rumah orangtuanya. Mereka bertanya kenapa ia sendirian. Dan ia mengatakan anaknya dibawa suaminya dan dia telah dicerai. Seolah begitu saja semua selesai.

Hari demi hari makin rindu lah ia dengan putrinya. Ia menangis dan menangis. Ia begitu sesak mengingat semua yang terjadi padanya. Hingga ia mengatakan semuanya pada kedua orangtuanya. Ia memohon kepada Bapaknya untuk mengambil putrinya pada Murni. Dan mengembalikan uang Murni.

Bapaknya segera berangkat ke rumah Murni. Namun, ia gagal karena ada hitam diatas putih. Suami Murni mengancam akan memasukkan penjara jika bersikukuh meminta Rara kembali.

Bapak Erna pun naik pitam pada Erna. Ia menyalahkan kesalahan Erna. Mengapa Erna tidak mengatakan dahulu kepada Bapaknya daripada pada temannya. Kini nasi menjadi bubur. Erna harus terima akibat dari keputusannya yang diambilnya. 

Erna semakin tersulut kala bayangan Murni tersenyum menggendong putrinya. Tertawa bersama dengan suaminya. Sementara dia sendiri menangis tanpa siapa-siapa. Penyesalan demi penyesalan seakan membuat hatinya dan pikirnya semakin kacau.

Pagi itu, hari kesepuluh Rara terlahir ke dunia. Wajahnya yang terkena sinar mentari dan gerakan mengusap wajah dengan kepalan tangan mungilnya itu mengoyak hati Erna. Erna mendekat sambil gemetaran. Antara sedih dan bahagia. 

"Maafkan Ibu, Nak..." ucapnya sambil menyayat leher putrinya.

Sontak saja tangis bayi itu memanggil baby sitter yang baru bekerja seminggu. Melihat darah dan Erna yang berlari sambil menangis dan berteriak keluar memegang pisau penuh darah ia segera menelepon Murni. Murni tak menyangka ibu kandung macam apa temannya itu yang membunuh anaknya sendiri yang masih berusia sepuluh hari. Ia pun melaporkannya kepada polisi.

Tangisan Erna pun kembali mengisi ruang berjeruji besi itu. Tangisan penuh penyesalan karena ia tak mampu memilih lelaki baik untuk dirinya. Karena ia menyerahkan putrinya kepada sahabatnya dengan uang. Karena ia tak rela melihat sahabatnya bahagia dengan putrinya. Karena membunuh putrinya sendiri.

Ibu yang sejati tidak akan membunuh anaknya sendiri. Ia akan mendukung anaknya dengan segala daya upaya untuk mewujudkan mimpinya. Semoga Allah melindungi kewarasan para Ibu hari ini di tengah segala permasalahan yang ada.

Baca juga:

0 Comments: