Headlines
Loading...
Oleh. Ratih Fitrinugraheni

"Jadi, gimana ini, Mbak Tiara? kira-kira kamu sudah siap ta'aruf atau belum?," Kartini mencoba menegaskan kembali jawaban putri pertamanya. 

Dua hari lepas, salah seorang teman kajian Kartini, menanyakan tentang Tiara, putrinya. Teman Kartini bermaksud mengenalkan Tiara dengan seorang Ikhwan yang sudah siap ta'aruf. Namun, Kartini sendiri belum yakin betul dengan kesiapan putrinya itu. 

"Ehmm, gimana ya, Mi'. Tiara kayak masih ragu-ragu, entah mengapa. Rasanya masih banyak yang kurang dari diri Tiara, masih belum Pede, Mi'." 

"Coba salat istikharah dulu aja, Mbak. Secara usia kamu sudah cukup. Umi abi juga insya Allah sudah ikhlas melepas kamu untuk menyempurnakan separuh agamamu." 

"Enggak dulu lah, Mi'. Bilang aja ke temen umi, aku belum siap." 

"Ya sudah. Jangan dipaksa, Mi', kalau Tiara nya belum siap," Arif, suami Kartini tiba-tiba keluar dari kamar dan turut berkomentar tentang obrolan ibu dan anak itu. 

Sebulan berlalu, setelah Kartini menyampaikan kepada teman kajiannya, bahwa putrinya belum siap ta'aruf. Kartini dan suaminya sedang duduk bersantai di ruang tengah sembari membahas isu-isu kekinian. Rutinitas sore yang memang hampir setiap hari mereka lakukan, saat tak ada agenda keluar rumah.

Secangkir teh hangat beserta pisang rebus menemani diskusi Kartini dan Arif sore itu, diiringi suara rintik hujan. Sedangkan Tiara, putri pertama mereka sedang fokus mendesain flyer di depan notebooknya, di samping Kartini.

[Criiing..!!] 

Sebuah notifikasi chat masuk, terdengar dari ponsel Tiara, yang memang dari tadi tergeletak di meja. Dan karena Tiara sedang fokus mendesain sembari mendengarkan nasyid menggunakan 'earphone', ia jadi tidak mendengar suara notifikasi ponselnya. 

Kebetulan ponsel Tiara tepat di depan Kartini duduk, dan tak sengaja Kartini melihat isi chat yang baru saja masuk di beranda ponsel. Sebuah pesan dari kontak berinisial RDku.

[Dek, aku kayaknya belum siap untuk melamar kamu]

"Deg!!" Jantung Kartini terasa berdegub kencang, bagai ada yang tercuri dari kehidupannya. Chat apa ini maksudnya? Salah kirim atau ada rahasia yang disembunyikan Tiara selama ini? 

Kartini melirik ke suaminya, tampak ia masih asyik membaca berita online. Kartini sengaja meraih ponsel Tiara dan menyodorkannya ke putrinya itu. Raut muka Tiara mendadak berubah, bagai pencuri yang kepergok oleh 'security'. 

Tiara segera beranjak hendak masuk ke kamarnya. Dan Kartini segera membuntutinya, "Abi, bentar nggih, ada yang mau umi obrolin sama Tiara." 

"Ya," Arif menjawab singkat tanpa menoleh ke istrinya, masih fokus dengan berita perpolitikan terkini. 

"Mbak, ada yang mau kamu jelaskan atau ceritakan ke umi?" Kartini berusaha menahan emosinya, agar Tiara bisa menjelaskan dengan sejujurnya tentang isi chat tadi. 

"Maafin Tiara, Mi'. Sebenarnya, chat tadi, dari kakak tingkat di kampus Tiara dulu, namanya Rizki Darmawan. Dulu sebelum Tiara ikut mengkaji Islam, Tiara sempat deket sama dia. Dan setelah Tiara paham bahwa tidak ada istilah pacaran dalam Islam, Tiara jaga jarak dengan dia dan semua aktivis cowok."

"Lalu?" 

Rasa penasaran Kartini semakin membuncah, ingin rasanya mencecar putri sulungnya itu. Tapi masih ia tahan, khawatir suaminya mendengar dan salah paham sebelum benar-benar jelas duduk masalahnya. 

"Dulu, sebelum Tiara mutusin kontak dengan dia, dia pernah pesan, suatu saat kalau dia sudah siap menikah, dia akan datang temui abi. Terus kemarin saat umi nanya, apakah Tiara sudah siap nikah atau belum,  Tiara ingat dia, dan Tiara beranikan diri nanya ke dia, Mi'. Tiara masih belum siap rasanya bila menikah dengan orang yang sama sekali belum Tiara kenal." 

"Hemm, Astaghfirullah ... Tiara dengar umi ya. Tiara yakin kalau qadha' Allah tidak akan salah kan?" 

"Iya, Mi'." 

"Terus? Sekarang Tiara masih yakin mau nungguin orang yang belum jelas kapan siap nikahnya? Umi dan abi pikir, Tiara memang sungguh belum siap. Ternyata, Tiara berharap pada orang yang tidak jelas."

Tiara hanya terdiam menunduk, dan Kartini masih berusaha memahamkan putrinya, agar jalannya jangan sampai menyimpang  sedikitpun dalam menjemput jodoh.

"Saran umi, Tiara mulai hapus harapan pada manusia, pasrahkan semua hanya pada Allah semata. Lagi pula, fungsinya ta'aruf kan untuk saling mengenal secara garis besar, Mbak. Bahkan mereka yang sudah pacaran pun tidak dijamin saling mengenal, karena pacaran itu banyak palsunya. Dan yang pasti itu dosa." 

"Iya, Mi'." 

"Umi, Tiara, ngobrol apa sich? serius amat?" 

"Astaghfirullah, Abi. Ngagetin aja, kepo dech Abi, nanti umi ceritain." 

"Oke dech," Arif berlalu hendak bersiap ke musala, karena Maghrib sudah menjelang.

"Umi ...." Tiara meraih tangan Kartini. 

"Iya, nanti malam umi cerita ke abi pelan-pelan, udah kamu fokus aja menata hati dan pikiran kamu. Dan jangan lupa banyak-banyak memohon petunjuk dan ampunan dari Allah." 

"Makasih, Mi'." 

Malam itu, sebelum beranjak tidur Kartini menjelaskan dengan hati-hati masalah Tiara kepada suaminya. Syukurlah Arif bisa mengerti, tapi ia minta kepada Kartini untuk terus memantau Tiara. Kejadian ini membuat Kartini semakin tersadar bahwa ia sungguh lemah tanpa pertolongan Allah Swt. Meski sekadar memastikan anak-anaknya yang sudah rutin ikut kajian Islam, tidak terjangkiti virus merah jambu yang melanggar rambu-rambu Islam. 

Tak terasa enam bulan sudah berlalu dari hari itu, saat Kartini memergoki putrinya memiliki hubungan tanpa status dengan teman kampusnya.

Fajar bahari menyingsing di ufuk timur, semburat cahaya jingga kemerahan menyembul di antara pekatnya langit pagi ini. Kartini sengaja keluar lebih awal, ia hendak ke pasar pagi membeli bahan-bahan masakan untuk acara yasinan malam nanti. Kartini pergi ke pasar bersama Tiara, selepas salat subuh dan tilawah pagi.

Sekitar satu jam mereka berbelanja di pasar, memilah-milah sayuran, lauk, buah, dan lain sebagainya. Dalam perjalanan pulang, saat melewati pematang sawah yang tengah menghijau, motor yang dikendarai Kartini dan Tiara tiba-tiba mogok. 15 menit sudah berlalu Tiara mencoba menyalakan motornya, tapi tak jua kunjung hidup. Kartini hendak menelepon suaminya, tetapi lupa tak membawa ponsel, dan kuota Tiara kebetulan juga habis. 

Mereka terpaksa mendorong motor untuk mencari bengkel terdekat. Baru sekitar sepuluh meter mereka berjalan, tiba-tiba sebuah motor berhenti. Seorang lelaki muda berbadan tegap turun menghampiri mereka, dan menanyakan apakah Kartini dan Tiara membutuhkan bantuan. Laki-laki muda itu mencoba membantu mereka untuk menghidupkan motor, tak sampai lima menit ia utak utik motor Tiara, dan alhamdulillah, motor mereka berhasil hidup kembali. 

Laki-laki itu pun segera berlalu setelah mengucap salam kepada Tiara dan Kartini. 

"Alhamdulillah ketemu orang baik di tengah jalan, ya, Mi'.  Montir kali dia ya, kayaknya cuma utak utik langsung hidup lagi motor kita. Kalau besok Tiara punya suami, semoga salah satu keahliannya juga serba bisa gitu, ya, Mi'." 

"Iya, alhamdulilah. Allah yang Maha Penolong menggerakkan salah satu hamba-Nya untuk menolong kita. Iya, aamiin, saleh dan serba bisa. Tapi, misal besok suami kamu tidak serba bisa dalam hal-hal teknis seperti itu, ya enggak apa-apa, Mbak. Kan ada banyak bengkel dan tempat reparasi, jadi wasilah rejeki buat mereka juga, kan?"

"Iya juga, ya, Mi'." 

"Btw, memangnya kamu udah enggak ngarepin si RD itu, Mbak?" 

"Insya Allah, enggak, Mi'. Capek hati berharap pada manusia. Tiara serahkan jodoh Tiara sepenuhnya pada Allah semata." 

"Alhamdulillah, syukur kalau begitu," Senyum terkembang di wajah Kartini, mendengar curahan hati putri sulungnya itu.

Setelah melanjutkan perjalanan sekitar dua puluh menit, Kartini dan Tiara tiba di rumah. Sebuah motor 'matic' merah terparkir di halaman rumah mereka. 

"Apa mau ada tamu, Mi'?" Tiara bertanya ke Kartini, sembari menenteng belanjaan mereka dan berjalan menuju pintu samping.

"Umi juga enggak tahu, lhoo, mungkin temen Abi."

Kartini dan Tiara hendak membongkar belanjaan mereka, kala Arif, suami Kartini, masuk ke dapur dan meminta Tiara membuatkan minuman hangat untuk abi juga tamunya. Dua cangkir teh hangat siap dihidangkan. Tiara berjalan menuju ruang tamu membawa teh hangat lengkap dengan camilannya, sepiring jajanan-jajanan tradisional yang dibelinya tadi di pasar.

Tanpa berbasa-basi, sesegera mungkin Tiara kembali masuk ke dalam, bahkan tanpa melihat wajah dari tamu abinya. Dan belum genap tubuh Tiara berputar 180°, terdengar sebuah suara menyapanya. 

"Mbak, yang tadi motornya mogok ya?" 

Refleks Tiara berbalik, "Eh, iya ... Lhooh? Mas-nya yang tadi nolongin, ternyata temannya Abi?" 

"Ooh, masya Allah, ternyata orang yang tadi kamu ceritakan itu Istri dan putri saya, San? syukran wa jazakallah, ya. Karena sudah menolong mereka." 

"Iya, Pak Arif. Afwan, wa jazakallahu khair. Ehmm, ngomong-ngomong, putri bapak sudah menikah atau belum?" 

"Belum, kenapa? Kamu mau ta'aruf sama dia kah?" 

"Masya Allah. Insyaallah saya siap ta'aruf jika bapak mengijinkan." 

"Tiaraaa ... Sini, Nak." 

"Ya, Abi, ada apa?" 

"Kenalkan, ini Sandi Abdullah. Dia ini teman satu kajian sama Abi, insya Allah Abi sudah kenal baik dengan Sandi juga keluarganya. Dia mau ta'aruf sama kamu, kamu sudah siap menikah belum?" 

"Masya Allah, Abi?"

Semburat warna merah jambu tampak di pipi Tiara, dengan malu-malu Tiara menjawab pertanyaan abinya.  

"Bismillah, insya Allah Tiara siap, Abi." 

"Alhamdulillah," ucapan hamdalah terdengar dari bibir Sandi dan Pak Arif. 

"Bila Pak Arif mengijinkan dan Tiara berkenan, bolehkah saya langsung melamar Tiara?" 

Pak Arif dan Tiara saling bertukar pandangan. Pak Arif tersenyum simpul dan Tiara hanya menunduk tersipu malu. Pagi itu menjadi awal sebuah ikatan suci antara dua hati yang melabuhkan cinta hanya pada-Nya, Sang Maha Pemilik cinta. 

Cilacap, 9 Desember 2022

Baca juga:

0 Comments: