Headlines
Loading...

Oleh. Ummu Khadijah

Bagi orang tua yang mempunyai anak yang akan masuk sekolah mungkin harus memilih-milih sekolah untuk anaknya. Dan semua orang tua, bisa dipastikan menginginkan sekolah yang terbaik untuk anaknya. Namun keyataanya sekolah terbaik saat ini biayanya pun sangat mahal. Para orang tua menginginkan anaknya dididik agar memahami agamanya di sekolah. 

Sementara kenyataannya, sekolah belum mampu untuk mencetak akhlak atau kepribadian anak didik yang Islami seperti yang diharapkan para orang tua. Karena pelajaran agama porsinya sangat sedikit yaitu hanya diberikan dua jam dalam seminggu. Tentu sangat tidak cukup untuk mencetak anak didik dengan pola pikir maupun pola sikap Islami, begitupun dengan pembekalan ilmu pengetahuan Islam. Alhasil sekolah tidak mampu membangkitkan keterikatan para anak didiknya terhadap syariat Rabb-nya. Lihat saja saat ini, Kita akan mudah sekali menemukan anak-anak usia sekolah atau bahkan masih memakai seragam sekolah yang nongkrong- nongkrong tidak jelas baik dipinggir jalan, kafe maupun tempat lainnya. Belum lagi aktifitas pacaran yang semakin bebas, tawuran, bullying yang semakin tidak punya rasa malu dan takut, karena mereka sengaja merekam dan mempublikasikan aktivitas pembuliannya, serta masih banyak aktifitas nir agama lainnya yang melibatkan pelajar.

Ini semakin jelas menunjukkan bahwa pelajaran agama yang mereka dapatkan tidak cukup memahamkan mereka tentang tugas hakiki hidup ini sebagai apa. Sementara aturan sistem saat ini yang serba matrealistis membuat sekolah negeri pun harus mengeluarkan dana yang tidak murah dengan gaya hidupnya.

Terkadang bukan hanya anaknya yang sekolah, seolah ibu-ibunya pun ikut sekolah, dengan baju-baju yang berseragam dan dana-dana kebutuhan yang diadakan mereka. Di lain pihak yang tidak punya dianggap berbeda atau kadang dikucilkan, bahkan setingkat SD pun ada saja pengeluaran piknik setiap tahunnya. Padahal tidak semua orang tua mampu, lagi-lagi orang yang tidak punya harus semakin bersusah payah bekerja atau tidak mengikuti kegiatannya dengan perasaan sedih karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Alhasil dengan semakin mahalnya biaya pendidikan saat ini, akhirnya menjadikan gelar pendidikan hanya untuk kembali meraih materi. Mereka jor-joran dalam kegiatan sekolah demi meraih nilai, sampai melalaikan kewajiban agama, dan mirisnya mereka anggap itu bukan sebuah musibah. Selain itu adanya aturan masuk sekolah bagi peserta didik yang ingin masuk menjadi siswa didik seperti aturan masuk menggunakan zonasi, umur, nilai dan sebagainya, yang merupakan syarat-syarat yang tidak seharusnya. Dan tentu saja persyaratan itupun tak pelak bisa membuat orang tua susah, bingung, dan kecewa. Ada artikel yang saya baca bahwa ada orang tua yang menginginkan anaknya disekolahkan di tempat terdekat dari rumahnya, tetapi tidak diterima karena melihat zonasi dekat dengan rumahnya bahkan kurang dari ketentuan yang sekolah tetapkan bisa masuk, tapi umur menjadi alasan ketidakbisaan anak itu masuk sekolah tersebut (https://megapolitan.kompas.com/read/2023/07/15/11575561/warga-cengkareng-ini-unjuk-rasa-di-depan-sekolah-usai-anaknya-tersingkir?page=all).

Islam mewajibkan semua umatnya menuntut ilmu, tidak dibatasi usia, jenis kelamin, maupun persyaratan berat lainnya, apalagi dana yang sangat mahal. Negara akan menerapkan seluruh aturan Islam tak terkecuali dalam sistem pendidikannya. Aqidah Islam akan dijadikan standar untuk mencetak generasi unggul dengan pola pikir dan pola sikap Islami, serta menguasai berbagai sains dan teknologi yang bermanfaat untuk umat. Maka negara akan menyediakan berbagai sarana dan prasarana demi tersedianya pendidikan yang berkualitas untuk seluruh rakyatnya dengan biaya yang sangat murah bahkan gratis. Semua rakyat didorong untuk memanfaatkan berbagai fasilitas pendidikan untuk belajar sungguh-sungguh hingga bisa menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat untuk orang banyak. Dan negara Islam memberikan apresiasi yang tinggi bagi para ilmuwan yang sudah mencurahkan segenap kemampuannya untuk menghasilkan karya atau temuan teknologi yang bermanfaat untuk kehidupan. 

Maka tak mengherankan jika sistem pendidikan Islam mampu mencetak para ilmuwan kelas dunia yang sangat banyak dengan karya-karyanya yang masih bisa digunakan, dinikmati atau dimanfaatkan sampai sekarang. Dalam bidang sains dan teknologi banyak lahir ulama-ulama yang jenius contohnya Abu al-Wafa pembuat rumus trigonometri, Ibnu Sina seorang filsuf, ilmuan dan dokter, Ibnu Khalaf al-Muradhi penemu jam mekanik beserta sistemnya dan masih sangat banyak lagi ilmuwan lainnya yang lahir dari hasil cemerlangnya sistem pendidikan Islam. 

Maka saatnya kita semua segera membuang sistem pendidikan kapitalis yang liberal dan materialistik dengan menerapkan sistem Islam. Sistem Islam sudah terbukti menghasilkan manusia-manusia yang cerdas dan bertakwa. Bahkan ketaatan para ilmuwannya terhadap syariat Islam berhasil menggairahkan mereka  untuk semakin menghasilkan berbagai hal untuk memajukan dan mensejahterakan umat demi semata ketaatannya pada Allah Swt., dan memudahkan umat untuk beribadah.

Kesuksesan para ilmuwan yang lahir dari rahim pendidikan Islam tidak membuat mereka lalai dengan berbagai kewajibannya sebagai hamba Allah. Karena negara sangat berperan mengatur jalannya pendidikan Islam ini untuk tetap sesuai dengan keridaan-Nya. Negara tidak akan membebani rakyatnya dengan pendanaan yang mahal juga dengan berbagai macam persyaratan untuk bisa sekolah. Peluang untuk belajar akan dibuka seluas-luasnya dengan beragam fasilitas yang akan memanjakan para pencari ilmu yang dahaga akan pengetahuan. Betapa rindunya kita terhadap sistem yang sempurna buatan Pencipta seluruh makhluk ini. Semoga kerinduan itu akan segera terwujud dalam waktu yang tidak lama lagi. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.

Wallahu a'lam bisshawwab.

Baca juga:

0 Comments: