
OPINI
Kriminalitas Makin Beringas, Bukti Batilnya Sistem yang Tak Tegas
Oleh. Yuke Octavianty
(Forum Literasi Muslimah Bogor)
Kriminalitas kian menjamur. Tak tanggung-tanggung, beragam tindakan kriminal yang diberitakan pun semakin mengerikan. Nyawa manusia pun makin tak dihargai.
Fakta Kriminalitas
Pembunuhan terjadi di Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, pada 8/7/2023, lalu. Korban berusia 50 tahun ditemukan tewas di kontrakannya (antaranews.com, 10/7/2023). Pelaku telah berhasil ditangkap di Wonosobo, Jawa Tengah. Tak hanya di Jakarta, pembunuhan pun marak terjadi di wilayah lain. Beragam motif tindakan kriminalitas mengemuka, ada karena cemburu, emosi, lilitan hutang ataupun dendam.
Selain pembunuhan, banyak juga tindakan pemerasan. Salah satunya kasus ASN tingkat kelurahan yang menggunakan data KTP petugas PPSU untuk mendapatkan verifikasi dana pinjaman online (antaranews.com, 10/7/2023). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun langsung tegas menindak. ASN bersangkutan langsung dicopot dari jabatannya.
Penganiayaan sajam (senjata tajam) pun masih terus mengintai keamanan warga. Dilaporkan bahwa polisi telah melakukan penangkapan pada para pelaku penganiayaan senjata tajam di wilayah Jakarta Barat, pada 4/7/2023 lalu (antaranews.com, 10/7/2023). Kapolsek Metro Tamansari Polres Metro Jakarta Barat, Kompol Adhi Wananda mengungkapkan penganiayaan terjadi karena adanya motif cemburu dari tersangka.
Sementara dari Yogyakarta, dilaporkan terjadi pembunuhan dan mutilasi terhadap mahasiswa perguruan tinggi swasta. Korban mutilasi ditemukan di lima titik di Sleman. Penemuan pertama pada Rabu, 12/7/2023 lalu. Pelaku ditangkap di Bogor, yang sebelumnya melarikan diri untuk menutupi semua kejahatannya.
Semua fakta ini hanya sedikit berita yang diambil dari publikasi media. Masih banyak lagi kasus pembunuhan sadis yang tak terbidik media. Pelaku makin sadis dan tak manusiawi. Manusia kian hilang rasa, hilang akal.
Tentu saja, kondisi mencekam ini mengancam keamanan masyarakat. Masyarakat menjadi merasa tak nyaman karena tak ada jaminan keamanan nyawa dan harta. Semua kewaspadaan harus dilakukan per individu saja. Tanpa ada jaminan dari negara.
Sekularisme Kapitalistik, Memantik Beribu Masalah
Begitu banyak fakta kriminalitas yang makin beringas. Emosi tak mampu dikendalikan. Hingga berujung pertikaian yang berakhir dengan hilangnya nyawa manusia. Manusia makin tak mampu mengendalikan diri. Keserakahan, meledak-ledaknya kemarahan, hasad, dengki, rasa cemburu, semua tercipta karena rendahnya iman dan takwa seorang individu.
Masalah-masalah yang sepele bisa memantik perkara besar hingga menghilangkan nyawa seseorang. Tak sekedar membunuh. Bahkan korban pembunuhan pun dimutilasi tanpa perasaan. Sungguh fakta yang mengerikan. Begitu sadis, melebihi perbuatan hewan. Astaghfirullahal 'adzim.
Inilah refleksi sekularisme. Sistem yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan. Manusia menjadi lemah tanpa daya. Perasaan dan akal jadi acuan. Tanpa ada aturan benar yang dijadikan standar. Kepuasan emosi dijadikan raja. Tanpa disadari bahwa hal tersebut menimbulkan perkara yang serius dalam menjalani kehidupan.
Sekulernya kehidupan menjadikan manusia tak takut dosa dan siksa. Karena tak tertanam iman di dalam dada. Perhitungan amal baik dan amal buruk hanya dianggap khayalan semata. Betapa buruknya dampak sekularisme yang diterapkan dalam menjalankan kehidupan.
Kehidupan yang sekuler saat ini diperparah juga dengan konsep kapitalisme. Pemahanan yang mengutamakan keuntungan secara materi, menjadikan manusia tak memiliki jalan berpikir yang benar. Semua dilakukan demi keuntungan tanpa menghitung akibat yang ditimbulkan. Jelas, konsep ini meningkatkan jumlah rakyat miskin. Semua kebutuhan hidup harus dibayar mahal. Sementara lapangan pekerjaan tak tersedia merata. Jurang status ekonomi kian dalam. Alhasil, kriminalitas makin tercipta dan menggurita. Sementara kebutuhan hidup terus memaksa untuk dipenuhi. Mulai dari kebutuhan makan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Tak ada pilihan lain, manusia pun makin hilang arah. Kalap memenuhi kebutuhan dengan cara yang keliru.
Di sisi lain, media pemberitaan tanpa filter semakin membabi buta. Media menyajikan berita fakta di lapang dengan cara "telanjang". Tanpa saringan. Media yang menyajikan beragam kesadisan dalam motif kejahatan menjadi salah satu topik yang banyak dicari orang. Tak menutup kemungkinan, pemberitaan semacam ini akan memanjangkan mata rantai kejahatan. Karena secara tak langsung, memberikan "ide" strategi berbuat kejahatan kepada masyarakat.
Lemahnya penegakan hukum pun sangat mempengaruhi maraknya kriminalitas. Negara tak mampu bersikap tegas kepada para pelaku kejahatan. Negara hanya mampu sebagai regulator, tanpa ada pengawasan yang kuat. Negara hanya mengurusi kebutuhan para pihak besar yang berpengaruh dan menghasilkan keuntungan materi saja. Masalah rakyat dianggap angin lalu yang akan hilang dengan sendirinya. Inilah paradigma yang keliru dalam penerapan sistem saat ini.
Sanksi yang diterapkan tak akan pernah melahirkan efek jera para pelaku kejahatan jika sistem kufur ini tetap diterapkan. Mandulnya hukum menjadikan rakyat tak percaya pada sistem yang ada. Jual beli perkara menjadi hal biasa. Inilah biang keladi masalah yang tak kunjung temu solusi. Akhirnya rakyat hanya bisa pasrah. Namun sayang, masalah ini kian menjadi parah saat rakyat menyerah pada sistem yang ada.
Islam, Solusi Terbaik
Saatnya umat kembali pada pengaturan yang ditetapkan syariat Islam. Yaitu satu-satunya aturan yang ditetapkan Allah Swt. agar kehidupan berjalan terarah. Sistem Islam dalam wadah institusi negara Kh!l4f4h, akan menetapkan aturan keamanan berlapis. Demi keamanan seluruh rakyat. Setiap regulasi yang ditetapkan negara selalu berorientasi pada kesejahteraan dan keselamatan seluruh umat. Karena Islam menetapkan bahwa nyawa rakyat adalah amanah yang wajib dijaga.
Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi saw. bersabda,
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).
Islam sangat menjaga nyawa manusia. Dan akan menindak tegas setiap perbuatan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Hukum qishas berlaku dalam Islam demi menghentikan mata rantai kejahatan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kh!l4f4h sebagai perisai umat akan senantiasa menjaga keamanan nyawa rakyatnya. Seperti kisah seorang wanita muslimah yang dilecehkan dan terancam keamanannya saat masa Khalifah Mu'tashim Billah dari Bani Abbasiyah. Peristiwa termasyhur ini tercatat sebagai salah satu peristiwa besar, yaitu peristiwa pembebasan Amuriyyah yang membuktikan betapa sempurnanya Daulah Islam menjaga kemuliaan dan keamanan rakyatnya.
Wallahualam bisshawwab.
Baca juga:

0 Comments: