
OPINI
Potret Buram Pendidikan dalam Sistem Sekuler
Oleh. Naila Ahmad Farah Adiba (Santriwati Peduli Generasi Muda)
Tak tahu harus berkomentar apalagi terhadap segala problematika yang terjadi di dunia remaja saat ini. Tawuran, mengonsumsi narkoba, bahkan hingga pembunuhan sesama. Semuanya telah menjadi permasalahan kompleks yang terjadi kini.
Namun, seolah semua menutup mata dan tak peduli terhadap dampak yang dihasilkan dari perbuatan asusila tersebut. Bukannya mereda, perbuatan kriminal itu seolah tak ada berhentinya, setiap hari bahkan setiap jam ada saja korban dari perbuatan tidak senonoh tersebut.
Bahkan bisa dibilang orang tua dari para remaja bermasalah tersebut cenderung abai terhadap pendidikan dan pribadi putra putrinya. Mereka malah sibuk dengan sesuatu yang bersifat duniawi dan karir semata, seolah apa yang telah dilakukan demi kebahagiaan anak. Padahal jika kita perhatikan banyaknya remaja yang bermasalah karena kurangnya perhatian dan kasih sayang serta penanaman adab dalam lingkungan keluarga. Padahal, pendidikan pertama bagi anak adalah orang tua terutama ibu.
Semakin maraknya kasus remaja yang beredar menjadi bukti bahwa banyak permasalahan yang harus kita benahi cukup kompleks. Salah satu penyebab semakin meningkatnya perbuatan kriminal itu tersebab karena para remaja saat ini tidak memiliki basic agama dan akidah yang kokoh. Sehingga mereka dengan mudah akan terbawa arus perubahan zaman yang tidak baik. Juga dengan mudah melanggar aturan Allah, karena minimnya pengetahuan mereka terhadap agama mereka sendiri.
Mereka merasa bahwa perbuatan yang mereka lakukan, itu tidak ada pertanggungjawabannya, padahal jika kita mengkaji lebih dalam, setiap manusia yang hidup akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah mereka lakukan selama di dunia.
Berbagai macam kasus yang ditemui, anak yang tumbuh berkembang dalam lingkungan yang broken home, tidak mendapatkan kasih sayang secara utuh dari orang tua, rasa kekecewaan yang mendalam dari perilaku orang tuanya menjadi pemicu tindakan-tindakan tercela tersebut.
Hal itu juga tak terlepas dari negara yang kini abai terhadap kondisi rakyat nya. Mereka sibuk dengan kursi kekuasaan mereka masing-masing, tapi lupa terhadap sesuatu hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka sebagai pengayom rakyat. Ya, kita harus menelan pil pahit setiap harinya terhadap segala kebijakan yang diterapkan kini.
Untuk meminimalisir atau bahkan meniadakan permasalahan atau problematika yang kompleks tersebut, dibutuhkan kesadaran dari masing-masing individu akan adanya Allah yang akan memberi balasan terhadap apapun yang kita lakukan. Sehingga apabila telah tercipta dalam diri masing-masing maka insyaallah akan meminimalisir perbuatan kriminal tersebut. Karena kita takut akan balasan yang setimpal apabila kita melakukan perbuatan maksiat tersebut.
Pun sama halnya dengan para orang tua, agar lebih peduli dan perhatian kepada anak-anak mereka dan mendidik mereka dengan pendidikan yang benar dan sesuai syariat Islam. Karena pondasi awal atau pendidikan awal itu dimulai dari rumah, atau lebih tepatnya Ibu sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak-anak nya.
Namun hal itu tidak akan bertahan lama apabila negara tidak memberikan sanksi yang tegas dan tepat kepada para pelaku kriminal tersebut. Karena sejatinya negara adalah pelaksana syariat yang telah Allah tetapkan. Sehingga dibutuhkan negara dan sistem yang mampu menerapkan sanksi yang menimbulkan efek jera bagi para pelaku nya. Sehingga para pelaku tersebut tidak akan mengulangi perbuatan tersebut dan akan memberi pelajaran bagi yang lain. Wallahu a'lam bish showwab. [ry].
Baca juga:

0 Comments: