Challenge Motivasi
Oleh. Eka Suryati
"Menyala". Sebuah kata yang terdengar akrab di telinga akhir-akhir ini.
"Menyala, Bestie." Begitu sering kita memberi semangat terhadap kawan kita yang sedang berjuang dan mulai terlihat berhasil.
"Menyala, Al-Majid!" Ups, kalau ini adalah sapaan mesra para sahabat yang ada di kelompok kecil grup A ODOJ SSCQ. Kata itu sering kami lontarkan karena ada beberapa sahabat yang terlihat menonjol dan selalu menuntaskan tugas-tugasnya dengan cepat. Hal itu menjadi penyemangat bagi sahabat yang lain untuk segera menyelesaikan tugas-tugas mereka.
Menyala, istilah yang memang sedang viral. Istilah tersebut bermunculan pada banyak postingan dan di kolom-kolom komentar, sehingga memberi nuansa yang unik. Namun, tidak sedikit yang penasaran arti di balik kata-kata tersebut. Kita dapat merujuk artinya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ternyata menyala berarti bersinar atau terang sekali. Jargon awalnya adalah "Menyala, Abangku."
Dan kalimat itu awalnya adalah diperuntukkan sebagai bentuk kekaguman pada prestasi seseorang, dalam hal ini adalah penggemar sepak bola terhadap atlet idolanya. Lalu merembet ke berbagai kegiatan dan keadaan. Intinya menyala dilontarkan untuk mengungkapkan rasa kagum kita kepada orang-orang yang dianggap pantas untuk mendapatkan pujian. Boleh dan sah-sah saja, asal jangan berlebihan dalam memuji makhluk, karena puja dan puji yang paling berhak mendapatkannya hanyalah Allah semata. Dengan memberikan pujian yang pantas sebagai bentuk penghargaan atas prestasi seseorang diharapkan akan menjadi semangat dan motivasi.
Kalau kita mengaitkan kata menyala dengan diri kita sebagai umat Islam, maka, kita memang harus tetap menyala. Menyalakan keimanan di dada agar tak gampang redup apalagi menjadi padam. Semangat untuk beramar makruf, nahi mungkar harus tetap kita jaga. Sebagai manusia biasa, yang keimanannya bisa naik dan bisa turun, maka perlu sekali kita menjaga rasa keimanan kita. Keimanan yang kuat, berkobar dan menyala akan membuat kita selalu menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan ujian yang dapat mempengaruhi keimanan kita. Untuk menjaga agar keimanan tetap menyala di hati, penting bagi kita untuk selalu mengingat tujuan akhir kita sebagai hamba Allah. Setiap amal baik dan ibadah yang kita lakukan adalah bagian dari perjalanan menuju rida-Nya. Dengan terus berdoa, kita akan merasa Allah selalu ada dan sangat dekat. Dalam menggapai rida-Nya perlu suatu tuntunan hidup, umat Islam harus terus membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Umat Islam adalah rahmatan lil alamin, artinya umat Islam harus selalu melakukan kebaikan dan menghindari setiap perbuatan yang akan merusak.
Dalam Al-Qur'an surah Al-Anbiya ayat 107, Allah Ta'ala berfirman,
ÙˆَÙ…َاۤ اَرۡسَÙ„ۡÙ†ٰÙƒَ اِÙ„َّا رَØۡÙ…َØ©ً Ù„ِّـلۡعٰÙ„َÙ…ِÙŠۡÙ†َ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."
Keimanan di dada harus selalu diperkuat agar tak gampang tergoda pada tindak kejahatan, karena keimanan merupakan landasan dalam setiap tindakan kita. Lalu keistikamahan adalah kunci untuk mempertahankan keimanan yang kokoh. Menghadapi godaan dan kesulitan dengan sabar serta tetap konsisten dalam menjalankan perintah Allah adalah bentuk nyata dari keteguhan hati. Dengan menjaga rutin ibadah, seperti salat lima waktu dan zikir, kita membangun pondasi yang kuat untuk keimanan kita. Setiap kali kita menghadapi rintangan, ingatlah bahwa setiap usaha kita adalah bentuk pengabdian kepada Allah dan bagian dari proses memperdalam iman.
Agar keimanan tetap bersarang kuat di dada, mari kita jaga hubungan kita dengan Allah dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Dukungan dari lingkungan yang positif dan saling mengingatkan dalam kebaikan juga berperan penting dalam menjaga keimanan. Bersyukur rasanya dipertemukan dengan para sahabat yang dapat membuat keimanan kita semakin baik dari waktu ke waktu. Memiliki sahabat yang memiliki tujuan yang sama akan membuat rasa syukur kita semakin besar, menyala terang di hati, memotivasi pada setiap tindakan.
Lalu, dengan bersyukur atas nikmat yang diberikan, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, akan membuat keimanan kita tetap bersinar dan memberikan kekuatan dalam setiap langkah hidup kita. [My]
Baca juga:

0 Comments: