Headlines
Loading...
Momen Nuzulul Qur'an, Momen Mengukuhkan Islam Kafah

Momen Nuzulul Qur'an, Momen Mengukuhkan Islam Kafah

Oleh. Ariani
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Momen Nuzulul Qur'an menjadi momen bersejarah bagi umat muslim. Saat itulah segala aturan bagi seluruh alam diturunkan. Tak heran, di bulan Ramadan tahun 2025 ini di beberapa daerah memperingatinya.

Salah satunya peringatan Nuzulul Qur'an yang laksanakan di kota Makassar Sulawesi Selatan pada 16 Ramadan 1446 H atau bertepatan pada tgl 16 Maret 2025. Peringatan ini diselenggarakan oleh Kemenag dengan menggelar 350 ribu khataman. Program bertajuk  khataman Al-Qur'an ini diharapkan bisa mengukuhkan semangat keislaman dan kebangsaan serta mengajak umat Islam untuk mencintai, memahami, dan meneladani Al-Qur'an, (Metrotvnews.com, 16/3/2025).

Peringatan Nuzulul Qur'an tahun ini, membuktikan bahwa masih besarnya rasa keislaman umat muslim di Indonesia. Hanya saja, hal ini tidak cukup dijadikan bekal untuk memperbaiki kondisi umat Islam yang terpuruk saat ini. Karena penyebab utamanya tidak diubah, yakni sistem demokrasi kapitalisme yang menjadikan akal manusia sebagai sumber aturan. Padahal sudah tentu manusia adalah makhluk yang  lemah, sehingga berpotensi adanya pertentangan dan konflik di antara mereka.

Al-Qur'an tak cukup dibaca sampai khatam saja. Kedudukan Al-Qur'an di hadapan umat muslim harus lebih dari itu. Al-Qur’an seharusnya menjadi landasan aturan setiap individu, masyarakat, dan negara dalam kehidupannya. Namun, kondisi sekarang  sangatlah miris. Individu yang berpedoman pada Al-Qur’an dan menyeru untuk kembali kepada Al-Qur’an justru dianggap radikal.

Di dalam sistem ini, prinsip kedaulatan di tangan rakyatlah yang dijunjung tinggi. Sistem ini menjadikan manusia yang penuh dengan hawa nafsu dan kepentingan individu, sebagai penentu aturan hidup.

Umat muslim seharusnya berpedoman pada aturan yang ada dalam Al-Qur'an. Berpegang pada Al-Qur’an merupakan konsekuensi keimanan dan harus tampak pada individu setiap muslim.  Apalagi jika ingin membangun peradaban manusia yang mulia, Al-Qur’an harus menjadi dasar kehidupan. Namun, yang terjadi sekarang justru Al-Qur’an disisihkan dari kehidupan. Meski peringatan nuzulul Qur’an setiap tahun diadakan, Al-Qur'an tidak lebih hanya sebatas bacaan semata.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al Qur'an;
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Umat muslim harus menyadari bahwa kewajiban berpegang pada Al-Qur’an  tidak hanya aspek spiritual saja, tapi haruslah mencakup seluruh aspek kehidupan. Mulai dari hal kecil masalah individu hingga masalah besar yang berkaitan dengan negara. Umat muslim juga harus memiliki tanggung jawab yang lebih besar yakni berupaya mewujudkan kembalinya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dalam setiap aspek kehidupan.

Untuk itu, dibutuhkan peran aktif oleh jemaah dakwah ideologis untuk memimpin upaya ini. Bergerak bersama umat mendakwahkan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup kepada umat muslim lain yang masih belum paham. Hal itu bertujuan agar, kesadaran umat terhadap kewajibannya menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan terwujud secara nyata, tidak hanya bagi individu, namun juga oleh masyarakat dan negara.

Bersatunya jemaah dakwah ideologis dan umat muslim untuk mewujudkan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup secara nyata merupakan kekuatan sangat dibutuhkan. Karena dengan kekuatan ini dapat mempercepat keberhasilan upaya ini. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan keistikamahan kepada setiap pengemban dakwah dan memudahkan penyerapan pemahaman bagi umat, agar segera terwujud penerapan Al-Qur'an secara nyata. Aamiin. [MA]

Baca juga:

0 Comments: