Al-Qur'an Ini Akan Selalu Kujunjung Tinggi
Oleh. Maya Rohmah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Malam ini, setelah rumah sunyi dari riuh rendah suara anak-anak, senyap dari suara lemari pendingin yang bolak-balik dibuka, dentingan alat makan ataupun perabotan dapur, aku khusuk bercengkrama dengan Tuhanku. Di mihrab, kuadukan segala keluh-kesah dan harapku.
Zikir-zikir panjang menjadi pembuka. Bacaan Al-Qur'an berlembar-lembar menjadi pintu gerbang sebelum berdoa kepada-Nya.
Sunyi. Sepi. Apalagi dari suara musik. Sungguh miris jika menyimak pemberitaan tentang pelecehan Al-Qur'an. Ada saja kasusnya. Sebagai umat muslim, tentu aku sedih. Satu bulan yang lalu aku membaca berita di kanalaceh.com edisi 21 Januari 2025. Kejadiannya di Aceh. Apa? Aceh? Ya, Aceh. Kalian tidak salah baca. Kejadiannya di negeri serambi Makkah.
Tertulis di sana bahwa seleb TikTok asal Aceh, Mira Ulfa, viral karena membaca Al-Qur'an diiringi musik DJ. Dia sudah dipanggil oleh Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh atau Polisi Syariat karena kontennya bertentangan dengan syiar Islam. Ia memenuhi panggilan polisi syariat untuk membuat pernyataan minta maaf karena konten yang dibuatnya tidak mendidik dan ada unsur pelecehan.
Aku pun meneruskan bacaanku. "Maria Ulfa mengaku membuat konten tersebut secara spontan, karena dia khilaf dan kurang pemahaman terhadap etika agama."
Astagfirullah. Aku lihat dari fotonya, dia jelas-jelas sudah baligh. Tetapi belum mengetahui adab-adab terhadap Al-Qur'an? Innalilahi ....
Alhamdulillah, bersyukur pada Allah, terima kasih kepada nenek, kedua orang tuaku, para ustaz dan ustazah. Sejak aku kecil aku telah mendapatkan pendidikan tentang bagaimana adab terhadap Al-Qur'an. Adab terhadap Al-Qur'an mencakup berbagai tindakan dan sikap yang menunjukkan penghormatan dan kesadaran akan keagungan kitab suci ini. Mulai dari menjaga kebersihan saat membacanya hingga merenungkan maknanya.
Aku masih teringat ketika Abah Damsuri (salah satu guru mengaji di masa kecilku), berkata bahwa sebelum membaca Al-Qur'an kita harus dalam keadaan suci (berwudu). Setelah itu hendaknya duduk menghadap kiblat. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Al-Qur'an.
Lalu membacanya dengan tartil (perlahan dan jelas) agar dapat memahami maknanya. Memperindah suara saat membaca Al-Qur'an juga merupakan adab yang disukai.
Membaca Al-Qur'an sambil merenungkan maknanya pun alias tadabbur sangat dianjurkan. Bagaimana kita bisa khusyuk dan fokus kalau membacanya disertai iringan musik DJ seperti selebgram tadi? Astagfirullah.
Demikianlah sikap kita sebagai seorang mukmin. Kita akan penuh penghormatan jika kita meyakini bahwa Al-Qur’ân adalah kalâm (perkataan; ucapan) Allah Azza wa Jalla. Huruf dan maknanya bukanlah makhluk, serta diturunkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’ân adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Al-Qur'an adalah sebaik-baik dan sebenar-benar perkataan, tidak ada kedustaan padanya, baik pada saat diturunkan maupun sesudahnya. Barangsiapa berkata berdasarkan Al-Qur'an, maka perkataannya benar; dan barangsiapa menghukumi dengannya, maka hukumnya adil. Barangsiapa mengikutinya, ia akan menuntun menuju surga, dan barangsiapa membelakanginya, ia akan menyeretnya menuju neraka.
Adab Tertinggi pada Al-Qur'an
Tadi itu adab dari sisi teknis ketika membacanya, ya. Sedangkan adab tertinggi kita, perhormatan terbaik kita pada Al-Qur'an adalah dengan beriman kepada Al-Qur’an.
Beriman kepada Al-Qur'an artinya meyakini segala beritanya, mentaati segala perintah-Nya, dan meninggalkan segala larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَاالَّذِينَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” [an-Nisâ’/4:136]
Ini adalah perintah Allah Swt. kepada orang-orang yang beriman untuk meluruskan iman mereka, yaitu dengan keikhlasan dan kejujuran iman, menjauhi perkara-perkara yang merusakan iman, dan bertaubat dari perkara-perkara yang mengurangi nilai iman. Demikian juga agar mereka meningkatkan ilmu dan amalan keimanan. Karena, setiap nas yang tertuju kepada seorang mukmin, lalu dia memahami dan meyakininya, maka itu termasuk iman yang wajib. Demikian juga seluruh amalan yang lahir dan batin termasuk iman, sebagaimana ditunjukkan oleh nas-nas yang banyak dan disepakati oleh salafush shalih.
Di sini terdapat perintah untuk beriman kepada Allah Azza wa Jalla, Rasul-Nya, Al-Qur’an, dan kitab-kitab terdahulu. Beriman kepada hal-hal di atas hukumnya wajib dan seorang hamba tidak menjadi orang yang beriman kecuali dengannya, yaitu beriman secara menyeluruh dalam perkara yang perinciannya tidak sampai kepadanya, dan secara rinci dalam perkara yang perinciannya sudah sampai kepadanya. Maka barangsiapa beriman dengan keimanan ini, dia telah mengikuti petunjuk dan sukses.
Musik dalam Pandangan Islam
Menyandingkan musik dengan Al-Qur'an tentunya akan memancing kekisruhan. Musik menjadi topik yang kontroversial dalam Islam. Sebagian ulama membolehkannya dengan syarat tertentu, seperti tidak mengandung unsur maksiat, sementara lainnya mengharamkannya secara mutlak.
Sementara yang dipakai oleh selebgram di awal tulisan ini adalah musik DJ. Kamu tahu apa itu musik DJ? Itu lho, musik yang identik dengan ritme cepat dan suasana hiburan, pokoknya jauh deh dari suasana religius.
Para ulama sepakat, membaca Al-Quran harus dilakukan dengan penghormatan maksimal. Penggunaan alat musik dalam pembacaan Al-Quran, termasuk musik DJ, dianggap haram jika mengandung unsur meremehkan.
Alhamdulillah, aku bersyukur masih banyak ulama yang lurus dan hanif. Tetapi jangan hanya mengandalkan ulama, kita, khususnya aku tentu harus berinteraksi dan berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Sehingga jika ada masalah penistaan agama atau hal-hal lainnya, bisa mengindera dengan cepat dan menghukuminya dengan kacamata Islam.
Semoga Allah istikamahkan kita dalam kebaikan dan dapat terus menjunjung tinggi Al-Qur'an. Aamiin.
Pamekasan, 18 Maret 2025 [MA]
Baca juga:

0 Comments: