Challenge Nuzulul Qur'an
Al-Qur'an Surat Cinta dari Allah Untukku
Oleh. Ummu Qanita
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Alhamdulillah. Aku sangat bersyukur terlahir dari keluarga muslim, sekali pun keislamanku karena keturunan, tapi aku selalu ingin tahu lebih dalam tentang Islam. Teringat sekali saat masa SMP dulu, aku berdebat dengan temanku yang beragama Nasrani. Perdebatan kami seputar konflik yang terjadi di Ambon. Saat itu aku kalah debat dan kuputuskan untuk mencari tahu tentang betapa benarnya agama yang aku anut ini.
Kala itu, aku ikuti kajian keagamaan di sekolah. Tapi sekadar belajar tajwid Al-Qur'an. Aku pernah bertanya kepada guruku tersebut tentang kenapa Islam disebut teroris? Kenapa Islam identik dengan perang? Tapi aku tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
Dari sekolah SMP Negeri, kuputuskan untuk lanjut ke sekolah Madrasah Aliyah Negeri, dengan harapan akan menemukan pemahaman Islam yang benar di sana. Akhirnya keinginanku terwujud. Aku bertemu dengan sahabat dakwah di kelas satu Aliyah. Ia mengajakku untuk berpikir tentang Islam dan perintah Islam yang ada dalam Al-Qur’an.
Saat itu, ayat pertama yang aku dapat adalah tentang kesempurnaan hijab. Di mana seorang muslimah wajib menutup aurat secara sempurna, hal ini ada dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31. Kemudian aku diminta untuk membacanya di rumah agar aku yakin bahwa itu perintah Allah Swt..
Sejak itu, aku mulai membiasakan diri membaca ayat dan terjemahan. Aku berpikir bahwa Al-Qur’an adalah surat cinta dari Sang Pencipta untuk manusia sebagai ciptaan-Nya.
Aku tidak pernah menolak ajakan sahabatku untuk dakwah, semua itu karena perintah Allah dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 104. Dalam perjalanan dakwah, aku dituntut untuk memiliki target bacaan minimal seperempat juz perhari. Sambil membaca terkadang aku menangis dengan ayat-ayat azab, membayangkan betapa pedihnya siksa Allah, sementara amalku? Ya Allah, Ya Rabb.
Lelaki Pertama
Semangatku dalam dakwah tidak pudar hanya dengan adanya penolakan. Sikap tegas dan yakin akan qadha membuatku enggan untuk menerima ajakan pacaran laki-laki yang menyatakan cinta padaku.
"Assalamualaikum, Dik. Apa kabar? Sekarang Mas merantau ke Pontianak. Mas pengin ngumpulin uang untuk melamar adik. Adik fokus belajar aja ya, kalau sudah tamat sekolah kabarin, Mas, ya?"
Sepucuk surat yang aku terima lewat Satpam sekolah membuatku tak percaya. Surat itu dari seseorang yang pernah bekerja di warung bakso milik orang tua sahabat satu bangku denganku. Memang sih, aku sering berkunjung ke warung, tapi sekadar menjalankan kerja tugas sekolah dengan sahabatku. Sebelumnya sahabatku pernah cerita tentang pegawainya ini, kalau beliau tertarik denganku dan mempunyai niat baik. Tapi tak kuhiraukan, aku hanya menganggapnya fitrah saja. Wajar lelaki suka dengan perempuan.
Surat itu kusimpan, rasanya ingin membalas, tapi kuurungkan, karena aku teringat dengan ayat Allah dalam Al-Qur'an surah Al Isra' ayat 32 yang artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk". Ayat ini melarang umat Islam mendekati zina dan perbuatan yang dapat menjerumuskan ke dalamnya. Termasuk di dalamnya adalah pacaran.
Aku berpikir bahwa jika beliau yang terbaik untukku, maka beliaulah jodohku. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. QS. An-Nur ayat 26 yang artinya perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)
Keyakinan akan surat cinta dari Allah tersebut membuatku terjaga dari maksiat.
Lelaki Kedua
Cerita cintaku tidak cukup sampai di situ. Allah Swt. masih menguji seberapa besar cintaku pada-Nya. Setelah pegawai sahabatku, datang yang lain yaitu teman sepupuku. Allah pertemukan kami ketika aku membawakan doa di acara ulang tahun sepupuku. Saat itu aku masih duduk di kelas satu Madrasah Aliyah.
Masih ada dalam ingatan, sehari setelah acara. Kakak sepupu menyampaikan salam temannya itu. Walaupun kakak sepupuku sudah menjelaskan bahwa aku masih sekolah dan belum siap menikah. Tapi temannya tetap bersikeras ingin datang ke rumahku.
Seminggu kemudian, datang laki-laki yang tidak lain teman sepupuku itu. Ibuku menyambut dengan baik. Alasannya tamu jauh.
Aku enggan keluar kamar karena merasa tidak kenal, tapi ibuku terus memaksa untuk keluar sekadar menyapa. Akhirnya aku turuti keinginan ibuku dan kubawa dua buklet kecil dengan judul "The Power of Jomblo" dan "Maaf, Kita Putus". Buklet itu kuserahkan padanya dan menyuruhnya membaca. Anehnya beliau tidak marah, melainkan tersenyum sambil menyatakan ungkapan kagum padaku.
"Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah," ucapku dalam hati.
Tak lama aku langsung menyuruhnya pulang dan menolak secara terang-terangan. Tapi ternyata beliau tidak kunjung menyerah dan terus melakukan pendekatan kepada keluarga terutama ibuku. Beliau sering datang walaupun tidak pernah aku jumpai. Janjinya pada ibuku bahwa beliau siap menunggu hingga aku lulus sekolah.
Sebagai seorang wanita yang ingin menjaga diri dari zina. Kembali aku memohon kepada Allah untuk dijauhkan dari beliau. Aku ingat firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al Anfal ayat 24 yang artinya, “Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
Setiap malam aku memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah. Hingga akhirnya Allah kabulkan dengan menjauhkan aku dari beliau.
Hari-hariku terasa tenang sejak tidak ada lagi ujian hati. Tapi Allah tidak berhenti mengujiku dengan ujian lain sebagai bentuk kasihnya padaku.
Aku Berjilbab
Saat di semester dua, aku mantapkan diri untuk berhijab sempurna. Seragam sekolahku, aku sulap menjadi jilbab dengan menyambungnya. Masya Allah, ujian keyakinan kembali dimulai. Saat itu mata pelajaran olahraga, aku enggan memakai pakaian olahraga. Guru olahraga marah, tapi ketika melihat wajah sedihku, hatinya luluh. Aku dipanggil ke kantor, diinterogasi tentang alasanku. Kujelaskan dengan apa yang aku pahami, aku katakan bahwa, "Aku takut pada Allah, baju olahraga bukan baju untuk di tempat umum, seorang muslimah wajib memakai jilbab saat di tempat umum."
Setelah mendengar alasanku, guruku mengatakan, "Nak, cuma sebentar olahraga nya."
Akupun menjawab, "Kalau aku mati dalam keadaan olahraga, berarti aku mati dalam keadaan maksiat dan aku takut."
Lelaki Terakhir
Sungguh, Allah Maha Baik. Aku tidak akan bisa istikamah dalam taat tanpa penjagaan-Nya. Perjalanan hidupku, kuwakafkan untuk dakwah. Dengan keyakinan akan janji-Nya, akhirnya aku dipertemukan dengan seorang lelaki taat yang juga seorang pengemban dakwah.
Visi misi kami sama yaitu ingin membangun keluarga pengemban dakwah yang ideologis. Hingga saat ini Allah jaga kami dengan penjagaan penuh kasih sayang. Dan hadiah empat putri yang salihah menjadi amanah untuk kami jaga.
Alhamdulillah, ya Allah. Alhamdulillah [MA]
Baca juga:

0 Comments: