Challenge Nuzulul Qur'an
Kutemukan Islam di Kampus Biru
Oleh. Arumintantri
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Hari ini, 18 Ramadan 1446 Hijriah, alhamdulillah wa syukurillah terus aku panjatkan atas semua limpahan nikmat Allah, sampai detik usia di atas kepala empat masih bisa membersamai Ramadan. Alhamdulillah pula hari ini, aku khatam tilawah Al-Qur'an.
Dua hari yang lalu, bakda Isya, kupanggil anak-anak dan menanyai mereka satu per satu, sudah sampai mana mereka tadarus Al-Qur’an. Alhamdulillah ada yang sudah khalas 30 juz dan ada yang masih 8 juz. Bahagia tebersit di hati ketika anak-anak mendawamkan diri untuk membaca Al-Qur’an.
Aku sampaikan setiap 17 Ramadan diperingati sebagai Nuzulul Qur’an, momen termulia Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. melalui malaikat Jibril pada tahun 610 Masehi di Gua Hiro’ Jabal Nur. Aku sampaikan pula, malam ke-17 penuh dengan keberkahan, maka perbanyaklah ibadah, berdoa kepada Allah, malam itu diampuni dosa-dosa manusia. Malaikat turun ke bumi untuk mengatur semua urusan umat hingga satu tahun ke depan. Malam itu juga diangkat amal kita untuk diserahkan kepada Allah, maka janganlah kalian sia-siakan waktu untuk hal yang tidak berguna.
Malam ini kami bertiga menangis, saling mengoreksi, apa saja kekuranganku ketika meriayah (mengurus) mereka, begitu pun dengan anak-anak, bagaimana mereka berusaha untuk mematuhi perintah umi dan abinya. Ramadan tahun ini lebih terasa mengharu-biru dibanding Ramadan tahun lalu. Setelah acara keluarga, kami melanjutkan aktivitas masing-masing dengan perasaan yang insyaallah lebih baik dari sebelumnya.
Setelah itu aku melangkah masuk ke kamar dan merenungkan 40 tahun hidupku ini sudah kupakai untuk apa saja. Apakah lebih banyak kebaikan atau sebaliknya, melakukan amal sia-sia dan berbuat dosa. Air mataku menetes ketika teringat ayat 7 dan 8 dalam QS. Al-Insyirah yang berbunyi;
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ ٧
Artinya: Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan).
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ٨
Artinya: Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.”
Setiap membaca dua ayat ini bergetar rasa hati, semakin takut akan datangnya hari pembalasan.
Islam Warisan
Aku lahir dari keluarga muslim sehingga otomatis aku pun muslim. Islamku Islam warisan, bukan dari jalan pencarian, sehingga apa yang kukerjakan sekadar mengikuti apa yang dikerjakan dan diajarkan ibuku, seperti salat lima waktu, membaca Al-Qur’an, bersedekah, berpuasa di bulan Ramadan, berpuasa sunah Senin dan Kamis. Hanya sebatas itu.
Selebihnya, ibu tidak pernah mengajarkan hal lain termasuk menutup aurat karena ibu pun tidak memahami kewajiban menutup aurat. Tetapi uniknya sejak kecil aku paling suka menggunakan kerudung, walaupun tak tahu dalilnya. Aku tergerak saat melihat tetangga kampung sebelahku. Kebanyakan dari mereka berkerudung, namun terlihat sangat nyaman menggunakan penutup kepala. Alhamdulillah setelah dewasa aku mengkaji Islam kafah, sehingga akhirnya aku memahami kewajiban menutup aurat secara sempurna.
Saat tiba bulan Ramadan, puasa Ramadan menjadi rutinitas rutin yang dikerjakan hampir oleh semua orang di kampungku. Dan mungkin ini adalah satu-satunya dalil yang aku tahu kenapa dulu aku harus berpuasa Ramadan, yaitu di QS. Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Definisi takwa yang dulu kupahami adalah bahwa aku harus salat lima waktu, membantu orang tua, puasa, sedekah, hanya sebatas itu saja. Sementara tentang hukum lainnya seperti: menutup aurat, pacaran, hukum main bareng dengan teman lawan jenis, dana bahkan hukum seputar riba tidak tersentuh sama sekali olehku.
SD dan SMP
Aku ingat saat duduk ke kelas 2 SD, aku mempunyai seorang guru agama, yang kalau aku pikir-pikir sekarang, beliau adalah orang yang sangat taat beribadah. Dari beliaulah aku belajar agama Islam. Aku masih ingat saat beliau bercerita tentang azab dan pahala. Perutku terasa mulas mendengar orang-orang yang dihukum Allah dengan azab di neraka. Mereka diberi minuman yang mendidih atau nanah dan diberikan makanan, yang ketika makanan itu dimakan maka dia akan tersangkut ke tenggorokan. Aku bolak-balik ke kamar mandi setiap beliau bercerita tentang surga neraka, rasa takutku sangat luar biasa dan sepertinya itulah yang membuatku takut untuk melakukan perbuatan dosa, alhamdulillah aku pun terjaga.
Aku tahu bahwa Al-Qur’an itu adalah kitabnya orang Islam yang harus dibaca, tetapi aku tak tahu kalau Al-Qur’an harus diamalkan. Ya, aku tahunya Al-Qur’an itu bertuliskan bahasa Arab, tetapi aku enggak tahu artinya apa. Terlebih dulu masih sangat jarang yang menjual Al-Qur’an yang dilengkapi terjemahannya, apalagi terjemahan per kata seperti sekarang. Tetapi walaupun tak tahu artinya, aku tetap membacanya. Dan yang kurasakan saat membaca, walaupun tak tahu maknanya apa itu, terasa nyaman di hati. Masyaallah, itulah kehebatan Al-Qur’an, walaupun tak tahu arti apa yang kita baca, Al-Qur’an bisa membuat hati tenang, tenteram, damai, dan menjadi benteng untuk tidak melakukan suatu perbuatan buruk.
Dahulu, kehidupan masa kecil kuhabiskan di kampung halaman. Semua warga kampung menyambut dengan bahagia datangnya bulan Ramadan hingga menjadi momen yang sangat istimewa. Banyak makanan di langgar, kami biasa menyebutnya jelaburan, yaitu camilan yang disiapkan oleh para ibu untuk anak-anak yang salat tarawih. Obor-obor berjejer rapi di sepanjang jalan sebagai lampu penerang. Aku sendiri membawa obor sebagai penunjuk jalan bila hendak berangkat ke langgar. Masa-masa tinggal di kampung sangat indah bagiku. Setelah aku lulus SMP, aku melanjutkan sekolah ke SMA di kota kabupaten.
SMA
Dari sinilah proses keislamanku dimulai, Islam yang bukan sebatas warisan, tetapi lebih ke arah Islam yang kutemukan dengan cara pencarian dalil. Saat di SMA aku tinggal di kos-kosan. Nah putri ibu kos ini kuliah di Jogja, orangnya halus dan santun, beliau mengajarkanku Islam, terutama bagaimana seharusnya seorang perempuan menutup auratnya secara sempurna.
Selain itu aku juga memperhatikan teman-teman di SMA. Ada organisasi kerohanian (rohis) Islam, aku lihat ketuanya berbeda dari temanku lainnya. Saat temanku lainnya sibuk berpacaran, dia tidak melakukan bahkan tidak mau dekat dengan perempuan. Dari situ aku mulai menggali lebih dalam tentang Islam, sampai aku memahami tidak ada pacaran dalam Islam. Maka sejak saat itu aku putuskan tidak mau berpacaran.
Kuliah
Setelah lulus SMA, aku merantau ke Jakarta, atas izin Allah aku diterima di PTN di Bogor. Di sinilah aku mulai belajar Islam yang sesungguhnya. Karena sejak kecil aku merasa tidak banyak belajar membaca Al-Qur’an, maka yang pertama aku cari adalah belajar membaca Al-Qur’an dan mengetahui kandungannya. Aku pun mulai belajar Al-Qur’an kepada teman yang bacaannya bagus. Tetapi ketika belajar, aku tak mendapatkan apa yang aku inginkan. Akhirnya aku mencari guru yang bisa mengajariku membaca Al-Qur’an, tetapi itu pun tak aku dapati. Yang ada malah aku bingung, banyak sekali hukum membaca Al-Qur’an. Ketika aku tanyakan kepada guruku, beliau juga bingung menjelaskan tentang hukum itu.
Akhirnya aku putuskan untuk tidak belajar membaca Al-Qur’an lagi, tetapi aku mengkaji setiap ayat Al-Qur’an/tadabur ayat dengan guru yang lainnya. Beliaulah yang mengubah pemikiranku bahwa Islam universal, tidak sempit.
Saat aku belajar tentang makna Islam yang sesungguhnya, aku mulai mengalami gesekan dengan keluarga, seperti penentuan awal dan akhir Ramadan, perempuan yang keluar rumah harus menggunakan jilbab, tidak bolehnya praktik pinjam-meminjam uang ribawi dalam masyarakat. Sampai-sampai aku dibilang saudara-saudaraku mengikuti aliran sesat, padahal apa yang kusampaikan itu hasil dari aku mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an bersama dengan guru.
Dari sinilah aku baru tahu bahwa Al-Qur’an itu sangat luar biasa, bukan cuma sebatas buku yang bertuliskan Arab, tetapi aturan yang Allah berikan kepada umat-Nya melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad. Seharusnya aturan itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi faktanya tidak. Orang-orang yang ingin kembali kepada Al-Qur’an dikatakan sebagai orang-orang yang sesat karena tidak sesuai dengan masyarakat. Padahal Islam itu rahmatan lil ‘alamin.
Aku masih ingat saat usiaku 18 tahun, kudekap terus Al-Qur’an di dada, kurekam dengan baik ayat-ayat yang diajarkan guru dan kupraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Aku tak takut lagi dengan hidup ini karena aku yakin Allah Maha Berkuasa dan memberikan semua kebutuhan hamba-Nya.
Menikah
Dan ketika usiaku menginjak 20 tahun, dengan berbekal ilmu Al-Qur’an yang belum seberapa, kuberanikan diri menerima pinangan seorang pemuda saleh. Ia mengajakku menikah dan tidak mengajakku berbuat maksiat. Hampir semua kakak kelas mencemooh, meremehkan, bahkan memandangku dengan hina, tetapi aku tidak takut karena pilihanku kusandarkan kepada Al-Qur’anku. Aku yakin rezeki itu pasti akan Allah berikan kepada orang-orang yang taat kepada-Nya seperti yang termaktub di dalam surat At-Talaq ayat 3:
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
Artinya: ”Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Aku mulai belajar membaca Al-Qur’an dengan benar ketika menginjak usia 27 tahun. Kala itu suamiku mengajar di sekolah SDIT yang menggunakan metode Qiroati. Akhirnya tahun 2007 aku belajar Qiroati, dan alhamdulillah lulus pada tahun 2008. Sejak itu aku mulai membaca Al-Qur’an yang kuyakini bacaanku benar dan itu semakin menambah keyakinanku bahwa Al-Qur’an adalah kalam ilahi.
Betul kata Al-Qur’an, jangan pernah mengaku beriman apabila belum diuji oleh Allah. Ujian pertamaku adalah ketika aku berumah tangga, diuji dengan kesusahan ekonomi, tetapi dengan kesabaran semua ujian itu alhamdulillah bisa kulalui bersama suami tanpa ada keluhan yang keluar dari lisan ini. Kenapa aku bisa seperti itu? Karena aku yakin bahwa Allah akan menolongku, seperti yang dikatakan Al-Qur’an.
Makna Al-Qur'an Bagiku
Bila aku ditanya, “Apa makna Al-Qur’an bagimu?” Maka jawabanku adalah Al-Qur’an merupakan petunjuk, jalan hidup, penenteram hati, pelipur ketika sedang lara, pelindung, penguat, penggembira, dan teman setia ketika tak ada satu pun manusia yang mau berteman. Rasa cintaku kepada Al-Qur’an yang membuatku mencintai makhluk-Nya.
Masyaallah, makna Al-Qur’an sungguh tak ternilai dan tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Al-Qur’an merupakan surat cinta yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya, semua permasalahan yang ada di dunia ini akan dengan mudah dipecahkan apabila kita peluk Al-Qur’an dan berserah diri kepada-Nya.
Aku begitu jatuh cinta dengan Al-Qur’an sehingga aku memilih untuk mengajarkan dan belajar Al-Qur’an sampai Allah memanggilku. Kata per kata dalam Al-Qur’an begitu membuatku terpesona, ayat demi ayatnya begitu menyentuh relung hatiku. Aku rindu saat tak berjumpa dengannya meski hanya dalam satu hari saja. Bahasa yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah syair yang tak akan bisa ditiru oleh siapa pun karena itu adalah bahasa surga.
Ketika aku sedang lelah, capek, sakit, mengantuk, kuambil dan membaca Al-Qur’an, maka semua hal yang aku rasakan itu hilang seketika. Aku sering bercerita kepada para guru atau kepada murid-muridku, ketika aku sedang mengantuk maka aku tidak mau mendekati Al-Qur’an, karena begitu aku mendekati Al-Qur’an maka akan hilanglah rasakan kantuk itu, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya
Alhamdulillah, saat ini aku dikarunia putra-putri sembilan anak dan aku tak berharap mereka mendapatkan keislamannya secara warisan seperti aku dulu, jangan sampai mereka tidak tahu dalilnya ketika mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Dari kecil mereka sudah aku ajarkan dan arahkan bahwa segala sesuatu yang akan mereka kerjakan harus berlandaskan kepada Al-Qur’an, tidak boleh keluar darinya, karena Al-Qur’an pedoman hidup kita, petunjuk mana yang hak, mana yang batil, pengokoh jiwa, pelindung, dan penenang hati.
Di dunia ini tak akan ada satu kitab, novel, atau buku cerita yang bisa menandingi Al-Qur’an. Bahkan ribuan buku yang diciptakan oleh manusia yang ada di muka bumi ini, mereka mendapatkan ilham dari potongan ayat yang ada di dalam Al-Qur’an. Sungguh Al-Qur’an tak ternilai harganya, bahkan Allah sendiri bilang apabila pohon-pohon menjadi penanya dan air laut menjadi tintanya maka tak akan habis untuk menuliskan ilmu Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Luqman ayat 27:
وَلَوْ أَنَّمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَٰمٌ وَٱلْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: ”Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Al-Qur’an menjadi pelipurku ketika tak satu pun manusia yang bisa mendengarkan keluhan dan menjaga rahasiaku. Al-Qur’anlah yang menjadi penggembira hatiku dan juga penampung semua keluh kesah yang kurasakan. Beban berat yang kupikul terasa ringan ketika kudekap Al-Qur’an. Ketika air mataku bercucuran dengan banyaknya permasalahan hidup, kubentangkan sajadah dan kubuka lembaran demi lembaran Al-Qur’an. Di situlah aku merasakan Al-Qur’an sungguh sangat luar biasa. Kekuatan Al-Qur’an membuatku bisa berdiri kokoh sampai saat ini.
Ketika fitnah-fitnah datang menghampiri, tak seorang pun manusia yang mau mendekatiku, bahkan tak mau mendengarkan sebagai temanku. Terbayang di pelupuk mataku bagaimana ketika Nabi Yusuf difitnah dan dimasukkan ke dalam jeruji penjara. Belum seberapa dibandingkan dengan permasalahanku, itulah yang membuatku menjadi kuat dan aku yakin dan semakin yakin bahwa Al-Qur’an adalah perpanjangan tangan Allah untuk umat-Nya.
Aku sangat butuh Al-Qur’an, dengan membaca saja aku bisa melihat Allah begitu dekat. Dengan membaca Al-Qur’an, aku bisa melihat betapa sayangnya Allah kepadaku. Dengan membaca Al-Qur’an aku bisa melihat bagaimana perjuangan para nabi dan rasul dulu, sehingga aku tetap istikamah di jalan ini mengikuti jalannya para nabi dan para rasul walaupun banyak sekali rintangan dan hambatan, tetapi aku yakin ini memang jalan harus kutempuh.
Ya Allah, istikamahkanlah aku, selalu berdiri menjadi garda terdepan untuk menyiarkan agama para nabi dan rasul, menjadi perpanjangan tangan para tabiin dan tabi’ut tabiin, sehingga Islam bisa dirasakan oleh generasi yang akan datang.
Ya Allah, di bulan Ramadan tahun ini mudahkanlah semua urusanku, urusan saudara-saudaraku, dan semua umat-Mu. Aku yakin janji-Mu akan Engkau tepati, Islam akan kembali berjaya di bumi ini seperti apa yang telah Engkau janjikan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: "Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta pelihara kami dari siksa api neraka."
Beribu rasaku bergejolak. [Ni]
Bogor, 18 Maret 2025
Baca juga:

0 Comments: