Headlines
Loading...
Ramadan di Gaza, Sahur di Tengah Dentuman

Ramadan di Gaza, Sahur di Tengah Dentuman


Oleh. Epi Lisnawati
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Ramadan, bulan penuh berkah dan ampunan, seharusnya menjadi waktu yang dinantikan oleh setiap muslim. Namun, bagi saudara-saudara kita di Gaza, Ramadan kali ini kembali diwarnai dengan derita dan air mata. Zionis Israel, dengan kekejamannya yang tak berperikemanusiaan, kembali melancarkan serangan bom ke wilayah Gaza. Dentuman keras mengguncang malam-malam yang seharusnya tenang, mengoyak ketenangan sahur dan berbuka.

Sahur yang seharusnya diisi dengan doa dan persiapan ibadah, justru dihiasi dengan suara sirine peringatan serangan. Anak-anak kecil yang seharusnya tertidur lelap, terbangun ketakutan oleh ledakan bom. Mereka berlari mencari perlindungan, sambil memegang erat tangan orang tua mereka. Buka puasa yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan, justru dirayakan di tengah reruntuhan rumah yang hancur. Makanan sederhana yang mereka santap terasa pahit, bercampur dengan kepedihan hati.

Muslim di Gaza tetap menjalankan ibadah dengan penuh kesabaran. Mereka berbuka puasa di tengah reruntuhan rumah-rumah yang hancur, tetapi hati mereka tetap terhubung dengan Allah. Kehidupan mereka seperti yang disebutkan dalam firman Allah: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155).

Ramadan di Gaza adalah gambaran nyata dari kesabaran dan keteguhan iman. Mereka berpuasa bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari rasa takut dan putus asa. Mereka yakin bahwa setiap tetes air mata dan setiap tetes darah yang mereka korbankan tidak akan sia-sia di sisi Allah. Mereka yakin, pertolongan Allah pasti datang, dan surga menanti mereka yang sabar. Mereka yakin dengan firman Allah di QS Al-Anfal ayat 46 “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."(QS. Al-Anfal: 46).

Penderitaan mereka semakin berat setelah militer Israel mengumumkan pasukannya  melanjutkan operasi darat di wilayah Jalur Gaza bagian tengah dan bagian selatan (Rabu 19/3). Operasi darat itu dilanjutkan sehari setelah gempuran skala besar Israel menewaskan lebih dari 400 orang di Jalur Gaza pada Selasa (18/3) waktu setempat, yang tercatat sebagai serangan udara paling mematikan sejak awal perang pada Oktober 2023.

Setelah serangan mematikan tersebut Gaza berubah menjadi lautan penderitaan yang tak terperi. Langit yang dulu biru, kini diselimuti asap tebal dan debu yang menyesakkan. Bangunan-bangunan yang pernah berdiri megah, kini hanya tersisa puing-puing yang berserakan, seakan menjadi saksi bisu dari kekejaman yang tak terkatakan. Jalan-jalan yang dulu ramai dengan kehidupan, kini sunyi, hanya diisi oleh tangis anak-anak yang kehilangan keluarga dan rumah mereka.

Udara terasa berat, dipenuhi bau busuk dari mayat yang belum sempat dikuburkan. Rumah sakit yang sudah kelebihan kapasitas, dipenuhi korban luka yang menjerit kesakitan, sementara obat-obatan dan peralatan medis semakin langka. Air bersih menjadi barang mewah, dan listrik hampir tidak ada, membuat malam-malam terasa lebih panjang dan menakutkan.

Anak-anak, dengan mata penuh ketakutan, berusaha mencari sisa-sisa makanan di antara reruntuhan. Para ibu, dengan air mata yang tak pernah kering, berusaha menghibur anak-anak mereka yang kelaparan dan ketakutan. Gaza, yang dulu penuh dengan kehidupan, kini menjadi tempat di mana harapan seakan sirna, digantikan oleh kepedihan yang tak berujung. Setiap detik terasa seperti abadi, dan setiap nafas terasa seperti perjuangan untuk bertahan hidup.

Para petugas medis berjuang keras untuk menangani peningkatan tajam jumlah korban selama 36 jam terakhir karena dan bantuan kemanusiaan sedang ditangguhkan. Para dokter di Gaza menggambarkan pemandangan "kiamat" saat mereka berjuang untuk merawat ratusan orang yang tewas dan terluka, termasuk anak-anak dengan anggota tubuh yang terputus, saat Israel melancarkan beberapa serangan paling mematikan yang pernah ada.

Pejabat kesehatan Palestina mengatakan bahwa hanya dalam beberapa jam saja, lebih dari 400 orang telah tewas, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Para petugas medis yang tersedia kesulitan untuk memutuskan siapa yang harus dirawat terlebih dahulu, karena pasien dan tubuh berlumuran darah bercampur di lantai. Sebagian besar yang terluka adalah anak-anak. Sejumlah besar anak-anak anggota tubuhnya terputus. Para petugas darurat masih berupaya untuk menolong yang terluka dan yang meninggal dari bawah reruntuhan.

Palestina, tanah yang terluka ini tentu membutuhkan solusi yang hakiki. Solusi itu hanya dapat diraih melalui dakwah dan membangun kesadaran umat. Umat harus menyadari bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga sistem hidup yang mengatur kehidupan dalam bermasyarakat dan bernegara. Untuk mencapai hal ini, kita harus membongkar makar dan propaganda penjajah dan musuh Islam. 

Maka umat akan memiliki kesadaran sahih dan pemikiran jernih bahwa solusi bagi masalah Palestina bukan sebatas bantuan kemanusiaan maupun sosial, melainkan upaya pembebasan yang membutuhkan kesadaran pemikiran, perasaan, serta sistem dan negara yang akan melindunginya dari penjajahan Yahudi dan musuh Islam. Sistem Islam yaitu Khilafah merupakan solusi tunggal bagi Palestina. Dengan Khilafah, sekat-sekat negara bangsa akan tercerai, persatuan kaum muslim akan terwujud dan penjajah Yahudi akan mudah diperangi dengan jihad fi sabilillah. [My]

Baca juga:

0 Comments: